Sikapi El Niño, LDII Klaten dan Ponpes Sahid Al Maarif Gelar Sholat Istisqa
Pilihan Judul 1:
Kemarau Panjang dan , Ponpes Sahid Al Maarif Gelar Sholat Istisqa
Pilihan Judul 2:
Hadapi Ancaman Kekeringan, Santri dan Warga Trucuk Berdoa Memohon Hujan
El Niño Perkuat Ancaman Kemarau, LDII Klaten Hadiri Sholat Istisqa di Ponpes Sahid Al Maarif
TRUCUK, KLATEN — Di tengah kondisi kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air dan aktivitas masyarakat, Pondok Pesantren Sahid Al Maarif menggelar Sholat Istisqa pada Sabtu (17/10/2026) pukul 06.30 WIB. Kegiatan ini menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT sekaligus momentum memperkuat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sholat Istisqa yang berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Sahid Al Maarif tersebut diikuti para santri, siswa dan guru SMPIT Limasan Maarif, serta masyarakat sekitar pondok. Aziz Rusdiyanto bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam pelaksanaan ibadah yang berlangsung khidmat tersebut.
Hadir dalam kegiatan itu Pimpinan Pondok Pesantren Sahid Al Maarif, H. Muhammad Aziz; Ketua PC LDII Kecamatan Trucuk, H. Shodik Simah T., S.Pd., M.M.; serta Wakil Ketua DPD LDII Kabupaten Klaten, H. Slamet Widodo, S.Kep., Ns., M.P.H.
Pelaksanaan Sholat Istisqa ini berlangsung di tengah kondisi cuaca kering yang masih perlu diwaspadai. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam informasi prakiraan cuaca periode 16–22 Oktober 2026 menyebutkan bahwa El Niño masih berlangsung dengan intensitas sangat kuat. Pemantauan awal Oktober menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 mencapai +3,33 derajat Celsius. Bersamaan dengan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif, situasi tersebut cenderung mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia. Kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Informasi tersebut sejalan dengan peringatan BMKG mengenai karakteristik musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya. Dalam prediksi musim kemarau yang diterbitkan Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Kabupaten Klaten termasuk wilayah yang diprakirakan mulai memasuki musim kemarau pada Mei 2026, dengan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Jawa Tengah umumnya diprediksi terjadi pada Agustus.
Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, termasuk berkurangnya ketersediaan air, gangguan terhadap kegiatan pertanian, serta meningkatnya risiko kebakaran lahan. Masyarakat juga perlu menggunakan air secara bijak, menjaga sumber air, dan menghindari pembakaran sampah maupun lahan secara terbuka.
Dalam konteks tersebut, Sholat Istisqa tidak hanya menjadi sarana ibadah dan doa bersama, tetapi juga momentum mempererat hubungan antara pondok pesantren, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat sekitar. Kebersamaan dalam menghadapi tantangan musim kemarau diharapkan dapat menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap warga yang membutuhkan.
Melalui kegiatan ini, seluruh peserta memanjatkan doa agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat, memberikan keberkahan bagi masyarakat, serta menjaga keselamatan dan kesejahteraan warga Kabupaten Klaten dan wilayah Jawa Tengah pada umumnya. (Rizal Putra Milda)
